Minggu, 30 November 2014

Analisis Cerita Ulang




JAKA TARUB
                Pada suatu hari hiduplah seorang pemuda pekerja keras yang hidup sebatang kara di suatu desa bernama desa Tarub. Nama pemuda itu adalah Jaka, tetapi karena ia berasal dari Tarub namanya menjadi Jaka Tarub. Pekerjaan ia sehari-hari adalah berburu, ataupun berladang. Jadi, hutan bukanlah hal yang asing baginya. Ia merasa di umurnya yang sudah cukup matang ini ia membutuhkan seorang pendamping hidup. Semenjak ibu angkatnya meninggal dunia, hidupnya menjadi tidak terurus. Ia juga merasa kesepian dalam menjalani kegiatannya sehari – hari.
                Hari ini adalah hari yang cerah dan Jaka Tarub tiba-tiba ingin memakan daging rusa. Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia segera menuju hutan untuk berburu seekor rusa. Hutan itu cukup sepi karena sulit untuk jangkauan masyarakat sekitar. Ia berharap dengan begitu, akan ada banyak rusa yang berkeliaran. Tetapi pada kenyataannya, hingga sore hari tiba tidak satu ekor rusapun yang didapatkan oleh Jaka. Ia kelelahan dan merasa sangat kecewa karena hal ini. Jaka Tarub segera duduk di bawah pohon rimbun untuk sekedar duduk beristirahat setelah pemburuannya yang gagal.
                Di tengah – tengah semilir angin, suara burung, dan sejuta ketenangan yang didapatkan oleh Jaka Tarub, tiba-tiba ia mendengar suara-suara wanita. Dengan segera ia mengikuti sumber suara tersebut. Ternyata ada sekelompok wanita cantik di pinggir sungai dalam hutan itu. Mereka semua sedang membersihkan tubuh mereka. Jaka Tarub melihat setumpukan kain para wanita itu. Tanpa sepengetahuan wanita-wanita itu ia langsung mengambil salah satu kain yang tertumpuk di atas batu pinggir sungai. Ia berusaha untuk mengumpat, tetapi setelah beberapa lama menunggu, salah satu dari wantia – wanita itu menangis sendiri sementara wanita yang lainnya telah terbang mendahuluinya. Tahulah Jaka Tarub bahwa mereka semua adalah para bidadari dari kahyangan.  Dengan penuh keberanian ia segera bergegas menuju wanita yang menangis sendiri di pinggir sungai itu. Nawang Wulan ternyata namanya. Jaka Tarub merasa iba melihatnya seperti itu, maka ia mengajak Nawang Wulan pulang ke rumahnya. Akhirnya mereka tinggal bersama selama beberapa bulan lalu setelah itu mereka memutuskan untuk menikah.
                Mereka hidup dengan penuh kebahagiaan. Ladang Jaka Tarub senantiasa dilimpahkan panen. Sehingga hidup mereka menjadi sangat makmur dan berkecukupan. Terlebih lagi mereka berdua dikaruniai seorang anak. Benar-benar menjadi keluarga kecil yang bahagia.
                Setiap hari, Nawang Wulan selalu memasak nasi yang sangat lezat dari hasil ladang mereka, tetapi padi di lumbung mereka tidak pernah berkurang. Maka Jaka Tarub memilih lumbung padi yang selalu penuh itu sebagai tempat untuk menyembunyikan selendang istrinya yang selama ini ia sembunyikan. Tetapi, hal ini cukup membuatnya penasaran dan bingung. Mengapa lumbung padi bisa selalu penuh sementara nasi yang mereka makan selalu tercukupi.
Suatu hari, Nawang Wulan hendak pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Ia menitip pesan kepada Jaka untuk menjaga api tungku di dapur dan jangan membuka periuk di atasnya. Jaka Tarub menyanggupinya, tetapi karena terlalu penasaran, ia membuka periuk tersebut setelah Nawang Wulan pergi. Ia hanya melihat sebutir beras di dalamnya. Maka ia segera menutup kembali periuk itu. Ternyata hal ini yang menyebabkan lumbung padi selalu penuh. Ketika Nawang Wulan pulang dan membuka periuk untuk memasak nasinya tadi, ia kaget karena ternyata bentuknya masih berupa beras. Nawang Wulan langsung tahu bahwa suaminya yang ia percaya telah mengingkari janjinya. Ia tahu bahwa Jaka telah membuka periuk untuk memasak nasi. Nawang Wulan merasa sangat kecewa kepada suaminya, sekarang ia sudah tidak bisa lagi menggunakan kesaktiannya, ia harus memasak nasi seperti biasa. Oleh karena hal tersebut, semakin lama beras di lumbung padi semakin berkurang. Setelah beberapa hari, dilihatnya sehelai selendang yang tidak asing baginya. Ternyata itulah selendang yang selama ini ia cari. Selendang yang hilang ketika ia mandi di sungai, dan menyebabkan dirinya kenal dengan Jaka Tarub seperti sekarang ini. Betapa kecewanya hati Nawang Wulan pada saat itu. Lelaki yang telah ia percaya selama ini, ternyata adalah lelaki yang telah berbohong besar kepadanya.
Setelah hal tersebut terjadi ia merasa bahwa ini merupakan petunjuk dari penghuni kahyangan supaya ia segera kembali ke tempat asalnya. Ia membicarakan semuanya kepada Jaka Tarub, secara bersamaan ia juga berpamitan kepada suaminya karena ia harus kembali ke tempat dimana ia berasal. Betapa menyesalnya Jaka saat itu. Semua permohonannya tidak akan bepengaruh apa-apa lagi. Ia menitipkan anak mereka, ia bilang bahwa ia akan selalu ada dalam bulan. Maka pandanglah bulan ketika Jaka Tarub merasa merindukannya.

TANABATA
Pada zaman dahulu kala hidup seorang pemuda bernama Kengyu. Ia tinggal di desa terpencil di Jepang. Kengyu hanyalah seorang petani biasa, tetapi ia sangat jujur dan seorang pekerja keras. Ia hidup sendiri di rumahnya, dan hanya berladang dan bertani pekerjaannya sehari-hari.
Suatu hari, ia hendak kembali ke rumahnya setelah bekerja seharian di sawah. Seperti biasa, ia menyusuri jalan setapak yang damai dan sepi. Tetapi tiba-tiba ada sebuah jubah indah tergulung di pinggir jalan setapak. Oleh karena keindahan jubbah tersebut, Kungyu segera mengambilnya. Ia berpikir bahwa tidak ada yang memilikinya lagi saat itu. Sesuai mengambil jubah tersebut dan kembali lagi menyusuri jalan,  ada suara merdu yang memanggilnya dan meminta kembali jubah tersebut. Kungyu tercengang ketika memembalikkan tubuhnya. Di hadapannya ada seorang wanita tercamtik yang pernah ia lihat. Ia adalah wanita yang memiliki jubah tersebut, tetapi Kungyu enggan mengembalikannya. Wanita itu menangis tersedu-sedu, karena ia tidak akan dapat kembali ke kahyangan jika ia tidak mendapatkan jubah itu kembali. Ia adalah seorang putri dari kahyangan, namanya adalah Orihime. Maka dari itu, Kungyu mengajaknya untuk tinggal bersama dengannya. Ia terlanjur jatuh cinta kepada Orihime. Mereka tinggal bersama hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Hari demi hari berlalu dengan sangat indah bagi mereka. Hingga sampai suatu saat ketika Orihime sedang membersihkan rumah ia menemukan jubahnya tersangkut di kayu panahan atap rumah mereka. Orihime merasa marah dan tidak terima. Maka ia segera mengambil jubah tersebut dan mengambilnya untuk ia gunakan. Ketika Kengyu pulang, Orihime sudah dalam keadaan siap meninggalkan bumi. Ia merasa memang seharusnya ia kembali ke kahyangan. Kengyu mencoba asekuat mungkin untuk mencegah Orihime pergi meninggalkannya. Ntetapi Orihime tetap terbang perlahan-lahan menginggalkan seuaminya sendiri. Kengyu tak henti-hentinya mencoba menahan Orihime agar tidak pergi. Orihime tiba-tiba menyerukan agar kengyu membuat seribu sandal jerami yang ditanamkan di sekitar pohon bamboo di depan rumah mereka jika ia memang ingin bertemu lagi dengan dirinya. Maka Kengyu segera menuruti permintaan Orihime. Semalaman ia mengerjakan seribu sandalnya tanpa berputus asa dan lelah sekalipun.
Pada akhirnya, Kengyu berhasil menyelesaikan sandal jeraminya.Sendal jerami yang tertanam itu membuat bambu-bambu di sekitarnya tumbuh subur dan sangat tinggi hingga dapat mencapai kahyangan tempat Orihime berada. Tetapi sayangnya, karena kecerobohan dan kurangnya konsentrasi Kengyu hanya menyelesaikan 999 sandal. Padahal seharusnya ia membuat 1000 sandal sehingga ia dapat meraih kahyangan dengan mudah. Kengyu hanya dapat memanggil-manggil nama Orihime dari tempat ia berada. Hingga akhirnya, Orihime mendengarnya dan meraih tangan Kengyu sehingga ia dapat naik  ke Kahyangan.
Orihime segera mengenalkan Kengyu sebagai pasangannya kepada ayahnya. Tetapi ayah Orihime merasa kecewa dan tidak setuju jika putrinya menikahi seorang manusia dari bumi. Ayah Orihime akhirnya memutuskan untuk membuat suatu persyaratan untuk Kengyu dengan harapan agar Kengyu dapat berpisah dengan Orihime. Tugasnya adalah menjaga kebun melon milik para dewa di kahyangan selama3 hari 3 malam. Tentu saja Kengyu menyetujui tugas tersebut. Ia sangat ingin kembali bersama dengan Orihime. Orihime yang turut mendengar perintah tersebut diam-diam memberitahu suatu rahasia mengenai penjagaan kebun tersebut. Ia tidak boleh sedikitpun mencicipi melon segar yang ada di kebun tersebut. Tak peduli sepanas apapun cuaca pada saat itu, Kengyu harus dapat menahan dahaganya.
Kengyu menyanggupi hal tersebut. Ia melaksanakan tugas itu keesokan harinya. Pekerjaan ini terlihat lancar selama 2 hari, tetapi pada hari ketiga Kengyu mulai tidak dapat menahan dahaganya. Ia membuka salah satu melon di kebun tersebut dan tiba-tiba keluarlah air bah yang tak terkendali banyaknya hingga menyerupai aliran sungai yang membuat Kengyu terbawa oleh arus. Kengyu terbawa hingga ia kembali menuju bumi, tempat asalnya. Orihime menangis begitu mengetahuinya, ia memohon agar ayahnya mengijinkan mereka untuk dapat bertemu lagi. Ayah Orihime merasa iba dan ia setuju untuk memberikan kesempatan kepada mereka berdua. Mereka dapat bertemu lagi, tetapi hanya satu kali dalam setahun, yakni setiap tanggal 7 Juni. Mereka menjelma menjadi bintang di langit seiring dengan seringnya pertemuan mereka. Mereka menjadi bintang Vega dan Altair di gugusan bima sakti. Gugusan bima sakti ini sebagai penjelmaan sungai yang membawa Kengyu kembali ke bumi. Hal itulah yang menyebabkan bintang Vega dan Altair bersinar dengan indahnya setiap tanggal 7 Juni di Jepang hingga saat ini.




  PERSAMAAN

                1)      Cerita atau isinya

JAKA TARUB
TANABATA
Jaka Tarub mengambil selendang wanita
Kengyu mengambil jubah cantik
Jaka Tarub berkenalan dengan Nawang Wulan dan menikah dengannya
Kengyu berkenalan dengan Orihime dan menikah dengannya
Nawang Wulan adalah seorang bidadari
Orihime adalah seorang putri kahyangan
Mereka hidup bahagia
Mereka hidup bahagia
Nawang Wulan menemukan selendangnya di lumbung padi
Orihime menemukan jubahnya terselip di atap rumah
Nawang Wulan kembali ke langit
Orihime kembali ke kahyangan
Jaka Tarub dan Nawang Wulan berpisah
Kengyu dan Orihime berpisah
 
                 2)      Unsur instrinsik

           Tokoh :

-          Kedua tokoh utamanya adalah pemuda yang belum memiliki pasangan        
-          Sifat tokoh utama adalah pembohong, berfikiran pendek, egois, gegabah tetapi penyayang dan rela berkorban. Sifat tokoh kedua dari kedua cerita adalah baik hati, setia, pemaaf dan penyayang.

Tema :

Percintaan

Latar :
-          Tempatnya di suatu desa
-          Waktunya siang hari
-          Suasananya membahagiakan dan mengejutkan di awal dan menyedihkan di akhir

Alur :

Alur maju

Amanat :

                Jaka Tarub adalah seseorang yang berpikiran pendek. Melalui cerita ini kita mendapatkan suatu amanat, yaitu janganlah berbohong kepada orang lain demi kesenangan diri sendiri. Hal ini akan menyenangkan di awal tetapi akan jauh lebih menyakitkan pada akhirnya, karena kebohongan sebesar apapun pasti akan terungkap oleh siapapun dan kapanpun itu.
                Kengyu adalah seseorang yang tidak memikirkan orang lain karena tidak mau mengembalikan jubah Orihime, ia bersikap egois demi kesenangannya. Suatu keegoisan pasti akan terbalaskan suatu hari nanti. Hal ini bisa saja menyenangkan, tetapi ketika balasan datang sakitnya akan jauh lebih besar dibanding kebahagian di awal.

PERBEDAAN

1)      Cerita atau isinya

JAKA TARUB
TANABATA
Jaka Tarub sedang beristirahat di hutan ketika mendengar suara wanita
Tanabata sedang berjalan menuju rumahnya ketika mendengar suara wanita
Wanita yang ia temui, yaitu Nawang Wulan, tidak tahu bahwa Jaka Tarublah yang mengambil selendangnya
Wanita yang ia temuai, Orihime tahu dan meminta agar jubah yang ia ambil dikembalikan kepada dirinya
Nawang Wulan memiliki kesaktian khusus selain terbang
Orihime tidak memiliki kesaktian khusus selain terbang
Nawang Wulan dan Jaka Tarub memiliki seorang anak
Orihime dan Kengyu tidak memiliki seorang anak
Nawang Wulan kecewa karena ternyata suaminya yang mengambil selendangnya selama ini
Orihime kecewa karena Kengyu tak dapat menjaga jubahnya dengan baik
Setelah Nawang Wulan kembali ke langit, ia dan Jaka Tarub tak dapat bertemu lagi selama-lamanya
Setelah Orihime kembali ke kahyangan, ia dan Kengyu bertemu kembali, dan terus bertemu setiap satu tahun sekali

2)      Unsur instrinsik

Latar :
                Keduanya memang berlokasi di suatu desa. Tetapi tempat kejadian ceritanya berbeda. Jaka Tarub bertemu dengan Nawang Wulan di sungai dalam suatu hutan di desa Jaka Tarub, sedangkan Kengyu dan Orihime bertemu di jalan pedesaan.

3)      Kebudayaan dan latar belakang

                Jaka Tarub dan Tanabata berasal dari latar belakang yang berbeda. Jaka Tarub berasal dari Jawa, dimana padi menjadi kebutuhan pokok. Ditekankan pula kewajiban-kewajiban seorang istri yang telah menjadi adat di Indonesia terutama Jawa, yaitu menanak nasi untuk keluarganya. Sedangkan Kengyu berasal dari Jepang yang masih kental adatnya dengan hal-hal yang berhubungan dengan bambu, dan beberapa kebudayan sehari-hari lainnya.

(Indonesian Language, 28/11/14)
Akademi Siswa Bangsa Internasional


               

Rabu, 19 November 2014

Itu Dulu...

                Semuanya berawal saat aku duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Aku ingat, beberapa tahun silam itu aku duduk di bangku paling belakang, bersama teman baikku. Kami baru saja naik kelas, jadi ini adalah tahun ajaran baru, sekaligus kelas baru bagi kami. Cukup sedih rasanya pada saat itu, karena aku harus berpisah dengan beberapa teman – teman baikku. Untungnya aku masih bersama Mayang, teman baikku yang sudah aku sebutkan tadi. Aku menjadi tidak terlalu merasa kesepian.
                Berhari – hari berlalu di kelasku yang baru ini, kelas 3-D namanya. Aku sangat ingat, letaknya di dekat tangga timur sekolah. Kelas ini juga bersebrangan dengan ruang kepala sekolah, membuat kita menjadi berpikir dua kali ketika ingin bandel. Di samping kelas ini adalah kelas 4-C, kelas senior kami pada saat itu. Kalian bisa membayangkan betapa menyeramkannya lokasi kelas kami. Dikurung oleh ruang kepala sekolah di bagian depan dan ruang kakak kelas di sebelahnya. Tetapi ternyata, anak – anak kelas baruku tidak sediam ataupun sesunyi yang kubayangkan sebelumnya.
                Kini, aku sudah memiliki banyak teman. Jadi, aku tidak lagi berduaan saja dengan Mayang. Bosan juga lama – lama bersama dia terus hahaha. Aku dan Mayang berkenalan dengan teman – teman sekelas perempuan kami. Sampai akhirnya kami membentuk sebuah geng seiring dengan berjalannya waktu. Aku ingat, kami tidak memiliki nama khusus untuk geng kami ini. Kami merasa cocok sejak awal sehingga apapun sering kami lakukan bersama – sama. Kami terdiri dari, Caca (aku sendiri), Mayang, Marsha, Tantri, Rai, Bella, dan Sekar. Jumlah kami tidak pasti, tetapi yang kuingat adalah mereka.
                Aku merasa nyaman dengan mereka sampai akhirnya suatu hari, Tantri dan Bella bercerita mengenai kekayaan mereka. Mari mulai dari Tantri. Ia bercerita bahwa di ulang tahunnya pada saat itu, ia diberi hadiah berupa piano eksklusif. Ia bilang, apapun yang ia inginkan pasti akan langsung diberikan oleh ayahnya. Aku tidak terlalu percaya pada awalnya, tetapi ketika dia bilang bahwa ia juga memiliki 25 koleksi jam tangan yang beragam, aku menjadi semakin percaya terhadap perkataannya. Hal ini dikarenakan, aku melihatnya menggunakan beberapa jam tangan yang berbeda setiap harinya. Padahal aku juga tidak tahu dan tidak menghitung berapa macam jam tangan yang sebenarnya sudah pernah ia kenakan. Kedua adalah cerita dari temanku yang satu lagi, yakni Bella. Cerita Bella ini mengenai rumahnya. Ia bercerita bahwa rumahnya sangat luas, dan di bagian depan terdapat 3 pintu eksklusif yang berbeda – beda. Pintu tengah untuk tamu – tamu istimewa, seperti presiden, penjabat – penjabat negara dll. Pintu sebelah kiri untuk tamu – tamu kalangan menengah ke bawah, atau tamu – tamu pada umumnya. Sedangkan pintu terakhir, yaitu pintu kanan, untuk anggota – anggota keluarganya. Lagi – lagi aku mudah saja percaya dengan semua perkataan di luar logika itu. Terlebih lagi aku juga masih berumur muda saat itu. Hal – hal imajinatif seperti itu sangat mungkin saja ada bagi anak – anak kecil.
                Aku sadar, perkataan – perkataan imajinatif mereka yang merupakan kebohongan belaka bertujuan untuk mendoktrinku agar lebih percaya pada mereka, sehingga aku akan dengan mudah menuruti kemauan mereka dan mengikuti semua perbuatan mereka. Aku mulai menyadari hal ini ketika pada suatu hari ketika kami sedang berkumpul di kantin, dan makan bersama, tempat makan Marsha tertinggal di kelas. Secara spontan, Tantri dan Marsha langsung memerintahkanku untuk mengambilnya di kelas. Aku bilang memerintahkan, bukan meminta tolong. Nada mereka sedikit membentak dan memaksa. Maka aku langsung saja menuruti mereka dan mengambilkan tempat makan itu di kelas kami yang jaraknya jauh dari kantin sekolah.
                Kejadian berikutnya adalah ketika pelajaran di kelas sedang berlangsung. Kebetulan pada saat itu aku sedang menulis catatan yang diberi oleh guruku, lalu tiba – tiba, Tantri datang menghampiriku dan menyarahkan buku catatannya kepadaku. Ia dengan seenaknya menyuruhku untuk mencatatkan semua catatan di papan tulis untuk dirinya. Lebih mengesalkannya lagi, catatan dia harus selesai terlebih dahulu, baru setelah itu aku baru bisa menyelesaikan catatanku. Entah kenapa, aku menangis saat itu, dan tiba – tiba Bella mendatangiku dan mencoba untuk menenangkanku. Tetapi tetap saja, Tantri terus memaksaku agar mencatatkan semua catatan itu.
                Sekar dan Rai, teman satu gengku berbeda dengan Tantri, Bella, ataupun Marsha. Ia dua anak yang sombong dan egois pada saat itu. Jika aku memiliki suatu barang yang baru atau bagus. Mereka bisa saja dengan seenaknya meminta barang itu jika mereka menyukainya. Mereka tentu saja tidak akan peduli dengan diriku. Hal ini dikarenakan mereka sudah merasa memiliki derajat lebih tinggi di atasku. Aku selalu menuruti kemauan mereka dan aku tidak pernah berani melawan perkataan mereka pada saat itu. Olokan – olokan seperti gendut, keriting, dll sudah biasa aku dengar dari mereka. Aku sudah cukup terbiasa dengan hal itu.
Entah kenapa hanya beberapa kejadian itu yang masih menempel di ingatanku. Sebenarnya masih banyak lagi kejadian menyebalkan lain yang terjadi ketika aku masih di bangku Sekolah Dasar. Baru sekarang ini aku sadar bahwa itu semua merupakan salah satu bentuk bullying. Aku tidak percaya kalau dulu aku juga merupakan salah satu korban fenomena bullying di sekolah. Ketika kami menjadi korban bully, yang kami takutkan bukanlah mengenai  hukuman dari pelaku bullying, tetapi lebih kepada status sosial kami ketika itu. Mereka akan meninggalkan kami sehingga kami tidak akan memiliki teman. Mereka akan embicarakan kita di belakang. Mereka akan mengolok – olok kami, terutama yang berhubungan dengan keadaan fisik kami. Sehigga kami akan dipermalukan. Jadi, seberapa parah pun perlakuan mereka selalu saj aada sesuatu hal yang membuat kami tak dapat melawannya.
                Ternyata kelas 3 Sekolah Dasar tidak cukup untuk mem-bully diriku. Aku masuk ke kelas  4 Sekolah Dasar setahun kemudian. Pada akhir kelas 3 Sekolah Dasar hubungan kami menjadi membaik. Entah karena mereka sudah terlalu lelah dengan memperlakukan aku seperti itu atau akunya yang sudah mulai belajar menyikapi dengan lebih baik lagi. Jadi, secara tidak langsung aku sudah tidak lagi merasa takut jika akan di-bully oleh teman – temanku di kelas yang baru ini. Entah aku harus senang, sedih atau bahkan biasa saja jika ternyata aku menduduki kelas 4-C yang selama ini berada persis di sebelah ruang kelasku dulu.
                Lagi – lagi, kelas baru, teman – teman baru pula. Teman – temanku kini adalah Putri, Dessy, Nia, Asty,  dan Oxa. Mereka sangat baik, tetapi kami tidak selalu melakukan apa – apa bersama. Kami hanya dekat satu sama lain. Hal ini menambah keyakinanku bahwa aku tidak akan mengalami hal – hal buruk seperti sebelumnya.
                Setelah 2 bulan berlalu, mereka sama saja dengan teman – temanku sebelumnya. Aku tidak tahu, aku yang memang sama saja atau mereka yang sama saja dengan temanku yang terdahulu. Waktu itu, Putri meminjam uangku untuk membeli makanan. Tentu saja aku segera meminjamkan uangku, ia bilang bahwa ia lupa untuk membawa uang saku ke sekolah. Tetapi semakin hari, ia semakin intensif meminjam uangku. Malah ia samasekali tidak merasa bersalah dengan terus – menerus meminjam uangku. Masalahnya, seringkali uangku habis hanya karena ia meminjamnya terlebih dahulu sebelum aku sempat menggunakannya. Setelah aku hitung – hitung, uang yang ia pinjam bisa mencapai tiga puluh ribu rupiah. Angka itu sangat besar untuk anak sekecilku dahulu.Kali ini, temanku tidak membentak atau menyuruh tetapi ia menunjukkan wajah memohon. Aku tidak dapat mengelak untuk membantunya. Lalu selanjutnya, Dessy, temanku dari batak ini senang sekali membuat lawakan – lawakan dan bercanda dengan kami. Tetapi, sampai suatu saat ia mencoret – coret wajahku dengan pulpen ketika jam istirahat sekolah. Awalnya memang bercanda, tetapi karena sifatku yang terlalu nurut dengan semua perkataan temanku, ia menjadi tertawa terbahak – bahak melihat wajahku yang penuh dengan pulpen. Dessy menjadi ketagihan untuk mencoret – coret wajahku. Akibatnya, Oxa ikut menertawakanku, dan memanggil semua teman sekelasku untuk melihat wajahku. Secara serempak mereka langsung menertawakanku. Aku tidak dapat menjelaskan betapa kesal dan malunya aku pada saat itu.
                Pada masa itu, sekolah bukanlah hal yang menyenangkan bagi diriku. Mungkin ini sepele menurut kalian, tetapi aku rasa aku tidak akan seperti sekarang ini jika dahulu aku tidak mengalami hal itu. Untungnya, semakin aku besar, semakin aku bisa mengatasi hal – hal itu. Entah ini memang berhubungan atau tidak, aku menjadi orang yang sangat peduli terhadap keadaan sekitar. Aku bisa senang jika sekitarku senang, dan begitu juga sebaliknya. Aku juga tipe orang yang akan merasa sangat tidak nyaman ataupun tenang ketika memiliki masalah dengan orang lain. Tak peduli seberapa kecil masalahnya, aku akan terus memikirkannya dalam – dalam. Hingga saat ini, masih sulit bagiku untuk berkata tidak jika ada permintaan tolong ataupun pertanyaan yang diajukan temanku kepadaku.Aku belum juga bisa bersikap tegas terhadap apa yang seharusnya menjadi hakku dan kewajibanku. Hal penting dalam hidupku adalah, kebahagiaan datang dari lingkungan, bukan dari diri sendiri. Sehingga jika kamu ingin hidup bahagia, maka bahagiakanlah orang – orang di sekitarmu. Harga sebuah pengalaman, tak peduli seberapa kecil halnya, kamu tidak akan pernah menyadari betapa besar pengaruhnya. Jangan pernah menyepelekan pengalaman kecilmu...

(Indonesian Language, 19/11/14)
Akademi Siswa Bangsa Internasional

                

Kamis, 09 Mei 2013

Sakit yang kubuat sendiri

Aku Ninda, aku punya hidup yang sungguh luar biasa indah, nyaris sempurna malah, tapi kadang semua sangat berbeda dan menyesakkan karena diriku sendiri.

Aku selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik dari apa yang aku bisa, aku sampai tidak peduli bagaimana perasaan atau keadaan aku saat itu yang penting orang lain senang dan merasa nyaman kepadaku. Aku sangat menikmati hal itu, aku menikmati sakitnya sendirian, aku menikmati indahnya berpura-pura, tapi yang lebih lagi aku menikmati senyum dan tawa mereka.
Banyak, sangat banyak orang yang merasa nyaman dan menerima hal itu, alhamdulilah, tetapi ada juga yang justru malah melunjak dan menganggap kalau aku akan baik-baik saja sampai kapanpun. 
Aku senang bisa mendengar mereka bercerita tentang apa yang mereka rasakan, lalu bisa memberi saran, dan akhirnya bisa membuat mereka merasa lebih baik, mereka membuka lekuk senyumnya kembali.

Kadang aku ingin bisa seperti mereka, bercerita sepenuhnya, mendapat saran, merasakan kepedulian mereka, tapi itu semua sulit bagiku. mungkin aku memang bisa bercerita sedikit-sedikit kepada satu dua orang, tetapi itu tidak sepenuh hati, aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata. aku lebih bisa mengeluarkan rasa sakitku ketika aku benar-benar sendiri, bercerita sendiri, berbicara dengan angin yang berhembus, dinding yang tegak, tanpa ada siapapun lagi selain diriku sendiri. dan ketika aku benar-benar tidak sanggup mungkin aku akan menuliskannya, aku merasa lebih baik ketika itu. aku lelah menahan semua rasa itu sendiri, berdiri diantara duri yang menusuk tanpa ada yang membantuku keluar. 

Kadang aku berpikir, apakah semua rasa sakit ini datang dari perilaku ku sendiri? dari semua hal yang berusaha aku lakukan sebaik mungkin tetapi justru jatuh ke jalan yang sakit karena orang lain?

Tetapi menceritakannya pada Allah merupakan suatu keindahanyang tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata, inilah hidup memang baniyak suka pasti banyak pula dukanya. aku mensyukuri setiap detik yang terjadi di hidupku, atas setiap titik air yang jatuh, atas semua udara yang dapat aku hirup sehingga aku masih bisa hidup hingga sekarang ini.


Sabtu, 09 Februari 2013

Harvard University

Setiap orang punya impian, dan begitu juga gue haha. Harvard University, yuhu denger namanya aja udah ngerti kan? it is one of some university that I want to reach at the future. susah bgt pasti dapet disana, tapi ya kalo udah ada niat dan usaha dari sekarang insyaallah bisa. My dream is having an education at another country and fix this country, Indonesia. yaa berlebihan mungkin, tapi ya itu yang gue pengen. walaupun gue masih gangerti cita-cita gue apa hahaha. Dan ini beberapa cerita tentang Harvard,

Harvard University is an American private Ivy League research university located in Cambridge, Massachusetts, United States, established in 1636 by the Massachusetts legislature. Harvard is the oldest institution of higher learning in the United States and the first corporation (officially The President and Fellows of Harvard College) chartered in the country. Harvard's history, influence, and wealth have made it one of the most prestigious universities in the world.

Harvard is governed by a combination of its Board of Overseers and the President and Fellows of Harvard College (also known as the Harvard Corporation), which in turn appoints the President of Harvard University. There are 16,000 staff and faculty.
A faculty of approximately 2,410 professors, lecturers, and instructors serve as of school year 2009–10, with 7,180 undergraduate and 13,830 graduate students. The school color is crimson, which is also the name of the Harvard sports teams and the daily newspaper, The Harvard Crimson. The color was unofficially adopted (in preference to magenta) by an 1875 vote of the student body, although the association with some form of red can be traced back to 1858, when Charles William Eliot, a young graduate student who would later become Harvard's 21st and longest-serving president (1869–1909), bought red bandanas for his crew so they could more easily be distinguished by spectators at a regatta.
Joint programs with the Massachusetts Institute of Technology include the Harvard-MIT Division of Health Sciences and Technology, the Broad Institute, and The Observatory of Economic Complexity.


Harvard's 210-acre (85 ha) main campus is centered on Harvard Yard in Cambridge, approximately 3.4 miles (5.5 km) northwest of downtown Boston and extends into the surrounding Harvard Square neighborhood. Harvard Yard itself contains the central administrative offices and main libraries of the university, academic buildings including Sever Hall and University Hall, Memorial Church, and the majority of the freshman dormitories. Sophomore, junior, and senior undergraduates live in twelve residential Houses, nine of which are south of Harvard Yard along or near the Charles River. The other three are located in a residential neighborhood half a mile northwest of the Yard at the Quadrangle (commonly referred to as the Quad), which formerly housed Radcliffe College students until Radcliffe merged its residential system with Harvard. The Harvard MBTA station provides public transportation via bus service and the Red Line subway.

                 

(From Wikipedia)