Sabtu, 06 Juni 2015

Pilkada Serentak dalam Konflik Politik Indonesia

Pemilu adalah salah satu bentuk penerapan demokrasi di Indonesia. Rakyat dipaksa untuk mempimpin negaranya sendiri dengan ikut andil suara dalam pemilihan pemimpin dan penetapan beberapa peraturan. Tetapi hal yang seharusnya mendapat anggapan positif ini justru tidak dimanfaatkan dengan baik oleh beberapa rakyat yang apatis. Pemilu diadakan untuk memilih berbagai komponen eksekutif pemerintah, salah satunya adalah pemimpin daerah yang disebut dengan pilkada (pemilihan kepala daerah). Pilkada sejatinya diadakan untuk menentukan pemimpin daerah sekaligus merotasi kepemimpinan mereka. Ini menjadi waktu yang tepat pula untuk mengevaluasi ataupun memberikan kritik kepada pemimpin sebelumnya. Dalam masa ini rakyat dibebaskan untuk memilih ulang pemimpin yang baru maupun memilih kembali pemimpin sebelumnya atas kesuksesannya memimpin. Hal itu yang kembali tidak dimanfaatkan dengan baik. Mengevaluasi dan memilih dengan benar.

Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Suku bangsa yang beragam membentuk keberagaman rakyat yang memiliki sifat dan latar belakang berbeda. Pola pikir dan intelektualitas mereka juga berbeda sesuai dengan keadaan ekonomi masing-masing individu. Perbedaan itulah yang terkadang membentuk beberapa masalah perpecahan. Salah satunya adalah kecurangan-kecurangan pemilu. Entah rakyat atau pelaku pemerintahan seperti elite politik yang menyebabkannya, belum ada yang bisa memberikan kepastian pelakunya.

Berbagai upaya diusahakan, tetapi hasilnya berada di tangan rakyat dan pemerintah itu sendiri. Pada tahun 2015 ini, upaya itu dilakukan dengan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota oleh KPU dengan menyusun PKPU mengenai teknis pelaksanaan dan akhirnya diputuskan untuk melaksanakan pilkada serentak di Indonesia. Pilkada serentak adalah pemilihan kepala daerah secara sekaligus, yaitu Walikota, Bupati, dan Gubernur sesuai dengan AMJ (Akhir Masa Jabatan) masing-masing. Pemerintah merencanakan pelaksanaannya akan diadakan pada tanggal 9 Desember 2015 di 9 Provinsi, 224 Kabupaten, dan 36 Kota. Hal ini membutuhkan kerja sama pemerintahan daerah yang sangat baik, agar dapat terlaksana dengan benar-benar efektif. Pelaksanaan ini akan menguji seberapa baik dan profesional pemerintahan dan politik yang ada di Indonesia.

Apakah pilkada serentak yang sengaja diselenggarakan demi keefektifan waktu dan biaya akan benar-benar sesuai dengan tujuannya? Bagaimana proses persiapannya selama beberapa bulan ini?
Pemerintah berharap bahwa pilkada yang dilakukan serentak akan menghemat waktu dan biaya, tetapi nyatanya anggaran yang dibutuhkan jauh lebih besar dari biasanya, yakni Rp 6,7 triliun. Padahal, pilkada sebelumnya hanya menelan anggaran sebesar Rp 5 triliun dan regulasi yang dibuat sudah cukup efektif. Apa penyebabnya? Regulasi efektif tersebut tidak didukung oleh beerapa faktor. Beberapa ahli berpendapat bahwa ada 3 faktor yang menyebabkan pembengkakan biaya ini. Fakotr pertama ialah kesalahan menerjemahkan kata "serentak". Serentak di sini hanya bermakna digelar pada tanggal yang sama. Padahal, serentak juga bermakna pemilu nasional, yaitu memanfaatkan banyak item yang sama, kecuali surat suara. Penyelenggara memanfaatkan hal-hal yang sama untuk menekan biaya, seperti pemilihan (KPPS, PPK, dan panitia lain), tempat pemungutan suara, petugas mutakhiran data pemilih, dan lain-lain. Faktor kedua yaitu penganggaran ganda untuk satu daerah yang sama untuk hal-hal yang semestinya cukup dianggarkan di salah satu wilayah saja. Faktor kedua ini sangat berkaitan dengan faktor pertama. Faktor ketiga adalah aturan teknis di bawah UU yang tidak mendukung aspek penghematan yang sudah diangkat UU. Banyak hal yang tidak perlu dicantumkan atau jumlahnya dapat dikurangi, seperti, percetakan kartu pemilih (beserta kartu tambahannya), yang seharusnya dapat menggunakan surat undangan biasa seperti pemilu nasional. Biaya pemeliharaan kantor, yang selayaknya sudah dianggarkan dalam APBD setiap daerah masing-masing. Lalu, pembentukan kelompok kerja, yang dianggap tidak diperlukan. Serta, biaya-biaya perjalanan dinas, yang jumlahnya harus ditekan. Faktor terakhir adalah adanya anggaran baru yang ditanggung oleh APBD, padahal sebelumnya ditanggung oleh partai politik dan calon.

Dapat dilihat bahwa semua faktor di atas berhubungan dengan penambahan dana yang seharusnya tidak diperlukan di masing-masing daerah. Sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia kegiatan politik-politik korupsi kecil pada setiap proyek yang ada. Dalam hal ini daerah berusaha menambahkan anggaran agar uang tersebut dapat digunakan untuk keperluan lain yang tidak menjadi hak mereka. Hal-hal seperti ini yang seharusnya dapat diubah dalam diri rakyat Indonesia. Banyak sekali orang yang mencemooh korupsi, tetapi ia tidak menyadari bahwa hal-hal kecil seperti pemalsuan jumlah anggaran  juga merupakan bentuk korupsi tetapi dalam jumlah yang kecil saja. Bagaimana rakyat dapat bertindak partisipatif apabila pemerintahan itu sendiri tidak dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan dan berpusat pada uang?

Permasalahan lain juga sempat muncul, yaitu pembajakan elite politik. Dua partai besar yang saat itu sedang mempermasalahkan kepengurusannya, Golkar dan PPP merasa khawatir akan keberadaannya dalam pilkada serentak. Mereka khawatir tidak dapat mengajukan pasangan calon kepala daerah. Melalui Komisi II DPR, elite politik  tersebut gagal memaksa KPU untuk mengakomodasi kepentingan kelompok politik tertentu terkait pencalonan kepala daerah. Caranya dengan merekomendasikan agar KPU cukup merujuk pada putusan pengadilan terakhir, jika pada tahap pencalonan dimulai, belum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap terkait sengketa kepengurusan kedua partai politik. KPU jelas menolaknya karena keputusan pengadilan belum berkekuatan hukum tetap sebagai rujukan dalam memverifikasi kepengurusan partai politik saat pencalonan kepala daerah  dan membahayakan keseluruhan legiti masi pilkada. Para elite politik melalui DPR meradang atas penolakan ini. DPR merencanakan revisi UU 8/2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota. Bagian yang akan direvisi adalah apabila belum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap ketika tahapan pencalonan dimulai, KPU diminta untuk merujuk pada putusan pengadilan yang terakhir saja. Rencana revisi UU yang dilakukan DPR di tengah tahapan yang sudah jelas dianggap sangat keliru dan patut ditentang. Perubahan dan penambahan norma ini hanya mementingkan kelompok tertentu.

Rencana revisi UU oleh DPR jelas hanya untuk kepentingan dua partai politik besar itu. Hal ini melenceng dari tujuan politik hukum yang harus mementingkan kepentingan orang banyak dan berlaku umum. Dari hal-hal itu kita dapat melihat bahwa pemerintahan sudah terlalu banyak di bawah kontrol elite-elite politik yang membuatnya sektoral. Budaya demokrasi yang sejak dulu dibangun bisa saja terhapuskan seiring dengan berjalannya waktu. Pemerintahan, khususnya DPR harus membangun diri kembali sesuai dengan tujuan mereka berdiri, yaitu menjadi wakil rakyat di depan hukum. Akhir-akhir ini, pemerintah menjadi gegabah dan terlalu cepat dalam memutuskan sesuatu perubahan, sehingga yang dihasilkan tidak maksimal dan justru membuang-buang biaya. Ketegasan seluruh pihak sangat diperlukan.

Dari penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa pola pikir rakyat Indonesia harus dibangun kembali. Jangan berorientasi pada uang, dan harus selalu ingat pada sistem demokrasi yang dianut oleh bangsa ini. Segala peubahan tidak akan bermakna apa-apa jika subjek-subjek pelaksananya memiliki pola pikir yang bertentangan dengan apa yang telah dianut sebelumnya. Rakyat akan sangat menghargai hal itu, sehingga kemungkinan besar antusias dan partisipasi mereka akan jauh lebih baik dari sebelumya. Intinya semua bergantung satu sama lain dalam mencapai kesuksesan sistem politik. Semoga pilkada serentak dapat terlaksana dengan baik dan sesuai dengan tujuan pelaksanaannya sehingga kegiatan politik di Indonesia akan menjadi lebih baik lagi.

Sumber:
Kompas.com
Detik.com
Liputan6.com

(06/06/15)
Sampoerna Academy Boarding School
Indonesian Language

Selasa, 26 Mei 2015

Apresiasi Film

JUDUL : BIG FISH
TAHUN : 2003
SUTRADARA : Richard D. Zanuck, Bruce Cohen, & Dan Jinks
PEMAIN :  Ewan McGregor, Albert Finney, Billy Crudup, Jessica Lange, Helena Bonham Carter, Alison Lohman, Robert Guillaume, Marion Cotillard, Steve Buscemi, Danny DeVito

                Unik, tetapi kurang menarik adalah dua hal yang langsung terpikirkan oleh saya setelah menonton film Big Fish. Film ini diliris pada tahun 2003, bukan film yang baru memang. Film ini merupakan sebuah film yang dikembangkan dari novel tahun 1998 berjudul Big Fish. Menurut saya berbagai karya seni lama seperti film ataupun musik jauh lebih artistik dibanding saat ini. Masih sangat terlihat bahwa keindahan senilah tujuan mereka, bukan sekedar keuntungan semata. Film sekarang menekankan pada keuntungan dengan cara penggunaan pemeran yang terkenal, sedangkan film-film lama menekankan kepada kepentingan seni dengan memiliki cerita yang tidak biasa dan berbeda antara satu dengan yang lainnya, hal itulah yang saya lihat dan saya angkat menjadi kelebihan film Big Fish.
                Film beralur maju mundur ini menceritakan tentang seorang ayah yang sangat percaya diri, bertekad besar , berani dan memiliki daya imajinasi yang tinggi. Ia adalah Edward Bloom. Ia sangat senang memberikan dongeng-dongeng sebelum tidur untuk anak lelakinya, Will. Lebih dari puluhan cerita yang ia akui sebagai biografi hidupnya diceritakan olehnya kepada semua orang. Hingga anaknya tumbuh dewasa dan ada dalam keadaan muak dengan semua cerita ayahnya. Ia tidak memercayai semua cerita omong kosong itu dan ia justru ingin mengenal ayahnya secara nyata, bukan dengan imajinasi ayahnya. bertahun-tahun waktu berjala  sulit untuk mereka berdua, ditambah lagi dengan penyakit Edward yang kian parah. Tetapi, justru di tengah kesulitan itu, orang-orang dan bukti-bukti dalam ‘imajinasi’ ayahnya muncul. Pada detik-detik sebelum kematian ayahnya, ia akhirnya menceritakan cerita imajinasinya mengenai bagaimana ayahnya meninggal. Matanya terbuka kembali, dan ia sadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Banyak sekali alur mundur mengenai kehidupan ayahnya dahulu. Hal ini secara tidak langsung menjadi bagian menarik, karena kita sebagai penonton diajak berpikir dan memilih mana yang fakta dan imajinasi belaka.
                Dimulai dari judulnya, Big Fish, tidak terpikirkan oleh saya seperti apa filmnya dan makna apa yang tersirat dari judul itu sendiri. Di detik-detik pertama film ini, mereka menekankan mengenai seseorang yang berbeda dari orang-orang biasanya. Seekor ikan besar yang sangat sulit, bahkan tidak ada yang bisa menangkapnya menjadi gambaran atas seseorang itu. Mulai dari bagian tersebut, saya mengerti mengapa film ini bernama Big Fish. tetapi belum ada gambaran atas apa yang ingin disampaikan film ini. Hal-hal seperti ini yang membuat penonton menjadi penasaran atas kelanjutan ceritanya. Membangun rasa ingin tahu di awal menjadi suatu hal yang penting.
                Lalu, film ini berlanjut ke dalam kisah seorang ayah yang terlihat sangat baik dan setia bercerita kepada anak lelakinya secara terus-menerus hingga anaknya duduk di bangku pelaminan. Semua cerita yang ia sampaikan adalah cerita yang ia akui sebagai cerita sepanjang hidupnya. Memang terlalu imajinatif ceritanya, hingga setelah sebesar ini anaknya baru menyadari kebohongan semua cerita khayalan itu. oleh karena perbedaan pendapat dan kekecawaan antara mereka, hubungan ayah dan anak antara mereka menjadi tidak baik selama beberapa tahun. Tidak diperlihatkan siapa yang benar dan mana yang benar pada bagian tersebut. Pada bagian ini pemahaman serta penikmatan saya akan cerita tersebut menjadi lebih tinggi, walaupun sempat terpikirkan bahwa ceritanya kurang menarik dan tidak sewajarnya seorang anak membenci ayahnya hanya karena hal itu. Dari keanehan itulah, muncul rasa ingin tahu yang lebih dari sebelumnya mengenai kelanjutan ceritanya.
                Pada bagian selanjutnya sosok ayah dalam film ini, yaitu Edward jatuh sakit. Mau tak mau, anaknya harus bertemu kembali dengannya setelah beberapa tahun tidak berjumpa. Dalam bagian ini, alur mundur mulai ditarik. Edward menceritakan perjalanan hidupnya yang selama ini ia ceritakan kepada anaknya, Will secara urut dari awal hingga akhir  kepada istri Will alur mundur ini berlangsung sangat lama, sehingga melebihi komposisi cerita pada masa sebenarnya. Padahal, inti dan makna yang dapat diambil seharusnya berasal dari cerita utamanya, karena alur mundur pada film ini hanya menceritakan kisah Edward pada zaman dahulu yang sangat imajinatif. Penonton harus pintar menentukan mana yang merupakan kisah nyata dan mana yang menjadi  fakta kehidupannya.
                Will tidak ingin ayahnya hidup dengan imajinasinya yang terlalu berlebihan. Itu adalah inti permasalahan dan konfliknya. Menurut saya konflik ini kurang besar dan menjadikan cerita ini memiliki kilmaks yang kurang besar pula. Dalam cerita perjalanan kehidupan Edward, caranya meminang istrinya,  yaitu Sandra menjadi hal yang paling menarik. Ia begitu menyukai wanita ini sejak pandangan pertamanya. Perjuangan yang ia lakukan juga tidak main-main, selama bertahun-tahun ia bekerja pada seseorang pengusaha sirkus tanpa digaji demi mendapatkan informasi menganai wanita impiannya itu. Berbagai hal dilewati hingga akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia hingga saat ini. Edward menjadi orang yang berpengaruh dan dikenal oleh banyak orang selama masa mudanya, ia banyak melakukan hal-hal besar yang tidak akan dilakukan oleh orang-orang biasa. Saat pertama kali ia keluar dari desanya, ia juga sempat dicemooh bahwa ia hanyalah ikan besar di kolam kecil yang akan tenggelam jika berada di samudra. Perjalanan hidupnya sungguh menarik menurut saya.
                Akhir dari film ini, Edward mengalami sakit yang semakin parah. saat itu, Will juga sedang mencari beberapa fakta untuk mencari tahu kebenaran atas cerita-cerita ayahnya terdahulu. Setelah beberapa fakta terkumpul, ia menemukan sebuah kota Spectre yang merupakan kota terpencil yang dahulu menjadi bagian dari cerita ayahnnya. Di sana ia juga menemukan Jenny, penyihir yang berubah menjadi muda kembali ketika ayahnya datang kembali dan menyelamatkan Spectre. Ia menceritakan semuanya, dan ia tak dapat berhenti terkagum atas kesetiaan cinta Edward kepada Sandra. Jenny dahulunya adalah seorang penyihir tua. Ia pernah dikunjungi oleh Edward dengan beraninya pada saat ia masih kecil. Pada saat itu, Edward melihat akhir dari kehidupannya, yaitu cara ia meninggal di mata kanan penyihir itu. Hal in yang saat ini diminta oleh Edward kepada Will. Di tengah detik-detik menuju ajalnya, ia meminta Will menceritakan akhir dari kehidupannya. Will memang tidak mengerti pada awalnya, tetapi akhirnya ia berlaku sama seperti yang ayahnya lakukan dahulu, yaitu bercerita imajinatif. di akhir ceritanya, ia membawa ayahnya ke sungai besar dan menjatuhkannya disana, lalu seketika ayahnya berubah menjadi ikan besar yang selama ini juga diceritakan pada Will, bahwa ada seekor ikan besar yang tak dapat ditangkap oleh siapapun, dan ayahnya berhasil menangkapnya tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya. Sekarang Edward telah menjadi apa yang ia inginkan di akhir cerita Will, pada saat itu juga, ia meninggal dunia.
                Will semakin percaya kepada ayahnya pada saat pemakaman berlangsung, semua tokoh dalam cerita ayahnya muncul dan bercerita banyak kepada keluarga Will. Saat itulah ia mengakui bahwa dirinyalah yang tidak mengenal ayahnya dengan baik, dan selalu ada niatan baik dari setiap cerita ayahnya.

                Bagian cerita beralur mundur pada film ini sangatlah menarik walaupun terlalu mendominasi, karena saya melihat keromantisan cinta Edward dengan Sandra, lalu juga imajinasi Edward yang sangat tinggi akan hidupnya. Kami sebagai penonton menjadi terpacu untuk memilah mana yang nyata dan khayalan sang tokoh, Edward. Film ini sedikit kurang menarik karena ceritanya yang monoton tanpa ada klimaks besar. Sehingga film ini memiliki cerita yang tidak biasa tetapi pengemasannya yang kurang maksimal. Film ini berhasil menyadarkan bahwa selama ini pikiran bisa saja membunuh keyakinan kita mengenai seseorang yang kita kenal, kita tidak menyadari bahwa yang salah bukanlah bagaimana orang itu bertindak pada kita, tetapi tentang bagaimana kita memahami mereka yang sebenarnya. Dalam penerapannya dalam kehidupan sehari-hari saya belum pernah merasakan hal sedemikian rupa, tetapi saya akan belajar dari makna dalam film ini. 

(26/05/15)
Sampoerna Academy Boarding School
Indonesian Language

Minggu, 30 November 2014

Analisis Cerita Ulang




JAKA TARUB
                Pada suatu hari hiduplah seorang pemuda pekerja keras yang hidup sebatang kara di suatu desa bernama desa Tarub. Nama pemuda itu adalah Jaka, tetapi karena ia berasal dari Tarub namanya menjadi Jaka Tarub. Pekerjaan ia sehari-hari adalah berburu, ataupun berladang. Jadi, hutan bukanlah hal yang asing baginya. Ia merasa di umurnya yang sudah cukup matang ini ia membutuhkan seorang pendamping hidup. Semenjak ibu angkatnya meninggal dunia, hidupnya menjadi tidak terurus. Ia juga merasa kesepian dalam menjalani kegiatannya sehari – hari.
                Hari ini adalah hari yang cerah dan Jaka Tarub tiba-tiba ingin memakan daging rusa. Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia segera menuju hutan untuk berburu seekor rusa. Hutan itu cukup sepi karena sulit untuk jangkauan masyarakat sekitar. Ia berharap dengan begitu, akan ada banyak rusa yang berkeliaran. Tetapi pada kenyataannya, hingga sore hari tiba tidak satu ekor rusapun yang didapatkan oleh Jaka. Ia kelelahan dan merasa sangat kecewa karena hal ini. Jaka Tarub segera duduk di bawah pohon rimbun untuk sekedar duduk beristirahat setelah pemburuannya yang gagal.
                Di tengah – tengah semilir angin, suara burung, dan sejuta ketenangan yang didapatkan oleh Jaka Tarub, tiba-tiba ia mendengar suara-suara wanita. Dengan segera ia mengikuti sumber suara tersebut. Ternyata ada sekelompok wanita cantik di pinggir sungai dalam hutan itu. Mereka semua sedang membersihkan tubuh mereka. Jaka Tarub melihat setumpukan kain para wanita itu. Tanpa sepengetahuan wanita-wanita itu ia langsung mengambil salah satu kain yang tertumpuk di atas batu pinggir sungai. Ia berusaha untuk mengumpat, tetapi setelah beberapa lama menunggu, salah satu dari wantia – wanita itu menangis sendiri sementara wanita yang lainnya telah terbang mendahuluinya. Tahulah Jaka Tarub bahwa mereka semua adalah para bidadari dari kahyangan.  Dengan penuh keberanian ia segera bergegas menuju wanita yang menangis sendiri di pinggir sungai itu. Nawang Wulan ternyata namanya. Jaka Tarub merasa iba melihatnya seperti itu, maka ia mengajak Nawang Wulan pulang ke rumahnya. Akhirnya mereka tinggal bersama selama beberapa bulan lalu setelah itu mereka memutuskan untuk menikah.
                Mereka hidup dengan penuh kebahagiaan. Ladang Jaka Tarub senantiasa dilimpahkan panen. Sehingga hidup mereka menjadi sangat makmur dan berkecukupan. Terlebih lagi mereka berdua dikaruniai seorang anak. Benar-benar menjadi keluarga kecil yang bahagia.
                Setiap hari, Nawang Wulan selalu memasak nasi yang sangat lezat dari hasil ladang mereka, tetapi padi di lumbung mereka tidak pernah berkurang. Maka Jaka Tarub memilih lumbung padi yang selalu penuh itu sebagai tempat untuk menyembunyikan selendang istrinya yang selama ini ia sembunyikan. Tetapi, hal ini cukup membuatnya penasaran dan bingung. Mengapa lumbung padi bisa selalu penuh sementara nasi yang mereka makan selalu tercukupi.
Suatu hari, Nawang Wulan hendak pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Ia menitip pesan kepada Jaka untuk menjaga api tungku di dapur dan jangan membuka periuk di atasnya. Jaka Tarub menyanggupinya, tetapi karena terlalu penasaran, ia membuka periuk tersebut setelah Nawang Wulan pergi. Ia hanya melihat sebutir beras di dalamnya. Maka ia segera menutup kembali periuk itu. Ternyata hal ini yang menyebabkan lumbung padi selalu penuh. Ketika Nawang Wulan pulang dan membuka periuk untuk memasak nasinya tadi, ia kaget karena ternyata bentuknya masih berupa beras. Nawang Wulan langsung tahu bahwa suaminya yang ia percaya telah mengingkari janjinya. Ia tahu bahwa Jaka telah membuka periuk untuk memasak nasi. Nawang Wulan merasa sangat kecewa kepada suaminya, sekarang ia sudah tidak bisa lagi menggunakan kesaktiannya, ia harus memasak nasi seperti biasa. Oleh karena hal tersebut, semakin lama beras di lumbung padi semakin berkurang. Setelah beberapa hari, dilihatnya sehelai selendang yang tidak asing baginya. Ternyata itulah selendang yang selama ini ia cari. Selendang yang hilang ketika ia mandi di sungai, dan menyebabkan dirinya kenal dengan Jaka Tarub seperti sekarang ini. Betapa kecewanya hati Nawang Wulan pada saat itu. Lelaki yang telah ia percaya selama ini, ternyata adalah lelaki yang telah berbohong besar kepadanya.
Setelah hal tersebut terjadi ia merasa bahwa ini merupakan petunjuk dari penghuni kahyangan supaya ia segera kembali ke tempat asalnya. Ia membicarakan semuanya kepada Jaka Tarub, secara bersamaan ia juga berpamitan kepada suaminya karena ia harus kembali ke tempat dimana ia berasal. Betapa menyesalnya Jaka saat itu. Semua permohonannya tidak akan bepengaruh apa-apa lagi. Ia menitipkan anak mereka, ia bilang bahwa ia akan selalu ada dalam bulan. Maka pandanglah bulan ketika Jaka Tarub merasa merindukannya.

TANABATA
Pada zaman dahulu kala hidup seorang pemuda bernama Kengyu. Ia tinggal di desa terpencil di Jepang. Kengyu hanyalah seorang petani biasa, tetapi ia sangat jujur dan seorang pekerja keras. Ia hidup sendiri di rumahnya, dan hanya berladang dan bertani pekerjaannya sehari-hari.
Suatu hari, ia hendak kembali ke rumahnya setelah bekerja seharian di sawah. Seperti biasa, ia menyusuri jalan setapak yang damai dan sepi. Tetapi tiba-tiba ada sebuah jubah indah tergulung di pinggir jalan setapak. Oleh karena keindahan jubbah tersebut, Kungyu segera mengambilnya. Ia berpikir bahwa tidak ada yang memilikinya lagi saat itu. Sesuai mengambil jubah tersebut dan kembali lagi menyusuri jalan,  ada suara merdu yang memanggilnya dan meminta kembali jubah tersebut. Kungyu tercengang ketika memembalikkan tubuhnya. Di hadapannya ada seorang wanita tercamtik yang pernah ia lihat. Ia adalah wanita yang memiliki jubah tersebut, tetapi Kungyu enggan mengembalikannya. Wanita itu menangis tersedu-sedu, karena ia tidak akan dapat kembali ke kahyangan jika ia tidak mendapatkan jubah itu kembali. Ia adalah seorang putri dari kahyangan, namanya adalah Orihime. Maka dari itu, Kungyu mengajaknya untuk tinggal bersama dengannya. Ia terlanjur jatuh cinta kepada Orihime. Mereka tinggal bersama hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Hari demi hari berlalu dengan sangat indah bagi mereka. Hingga sampai suatu saat ketika Orihime sedang membersihkan rumah ia menemukan jubahnya tersangkut di kayu panahan atap rumah mereka. Orihime merasa marah dan tidak terima. Maka ia segera mengambil jubah tersebut dan mengambilnya untuk ia gunakan. Ketika Kengyu pulang, Orihime sudah dalam keadaan siap meninggalkan bumi. Ia merasa memang seharusnya ia kembali ke kahyangan. Kengyu mencoba asekuat mungkin untuk mencegah Orihime pergi meninggalkannya. Ntetapi Orihime tetap terbang perlahan-lahan menginggalkan seuaminya sendiri. Kengyu tak henti-hentinya mencoba menahan Orihime agar tidak pergi. Orihime tiba-tiba menyerukan agar kengyu membuat seribu sandal jerami yang ditanamkan di sekitar pohon bamboo di depan rumah mereka jika ia memang ingin bertemu lagi dengan dirinya. Maka Kengyu segera menuruti permintaan Orihime. Semalaman ia mengerjakan seribu sandalnya tanpa berputus asa dan lelah sekalipun.
Pada akhirnya, Kengyu berhasil menyelesaikan sandal jeraminya.Sendal jerami yang tertanam itu membuat bambu-bambu di sekitarnya tumbuh subur dan sangat tinggi hingga dapat mencapai kahyangan tempat Orihime berada. Tetapi sayangnya, karena kecerobohan dan kurangnya konsentrasi Kengyu hanya menyelesaikan 999 sandal. Padahal seharusnya ia membuat 1000 sandal sehingga ia dapat meraih kahyangan dengan mudah. Kengyu hanya dapat memanggil-manggil nama Orihime dari tempat ia berada. Hingga akhirnya, Orihime mendengarnya dan meraih tangan Kengyu sehingga ia dapat naik  ke Kahyangan.
Orihime segera mengenalkan Kengyu sebagai pasangannya kepada ayahnya. Tetapi ayah Orihime merasa kecewa dan tidak setuju jika putrinya menikahi seorang manusia dari bumi. Ayah Orihime akhirnya memutuskan untuk membuat suatu persyaratan untuk Kengyu dengan harapan agar Kengyu dapat berpisah dengan Orihime. Tugasnya adalah menjaga kebun melon milik para dewa di kahyangan selama3 hari 3 malam. Tentu saja Kengyu menyetujui tugas tersebut. Ia sangat ingin kembali bersama dengan Orihime. Orihime yang turut mendengar perintah tersebut diam-diam memberitahu suatu rahasia mengenai penjagaan kebun tersebut. Ia tidak boleh sedikitpun mencicipi melon segar yang ada di kebun tersebut. Tak peduli sepanas apapun cuaca pada saat itu, Kengyu harus dapat menahan dahaganya.
Kengyu menyanggupi hal tersebut. Ia melaksanakan tugas itu keesokan harinya. Pekerjaan ini terlihat lancar selama 2 hari, tetapi pada hari ketiga Kengyu mulai tidak dapat menahan dahaganya. Ia membuka salah satu melon di kebun tersebut dan tiba-tiba keluarlah air bah yang tak terkendali banyaknya hingga menyerupai aliran sungai yang membuat Kengyu terbawa oleh arus. Kengyu terbawa hingga ia kembali menuju bumi, tempat asalnya. Orihime menangis begitu mengetahuinya, ia memohon agar ayahnya mengijinkan mereka untuk dapat bertemu lagi. Ayah Orihime merasa iba dan ia setuju untuk memberikan kesempatan kepada mereka berdua. Mereka dapat bertemu lagi, tetapi hanya satu kali dalam setahun, yakni setiap tanggal 7 Juni. Mereka menjelma menjadi bintang di langit seiring dengan seringnya pertemuan mereka. Mereka menjadi bintang Vega dan Altair di gugusan bima sakti. Gugusan bima sakti ini sebagai penjelmaan sungai yang membawa Kengyu kembali ke bumi. Hal itulah yang menyebabkan bintang Vega dan Altair bersinar dengan indahnya setiap tanggal 7 Juni di Jepang hingga saat ini.




  PERSAMAAN

                1)      Cerita atau isinya

JAKA TARUB
TANABATA
Jaka Tarub mengambil selendang wanita
Kengyu mengambil jubah cantik
Jaka Tarub berkenalan dengan Nawang Wulan dan menikah dengannya
Kengyu berkenalan dengan Orihime dan menikah dengannya
Nawang Wulan adalah seorang bidadari
Orihime adalah seorang putri kahyangan
Mereka hidup bahagia
Mereka hidup bahagia
Nawang Wulan menemukan selendangnya di lumbung padi
Orihime menemukan jubahnya terselip di atap rumah
Nawang Wulan kembali ke langit
Orihime kembali ke kahyangan
Jaka Tarub dan Nawang Wulan berpisah
Kengyu dan Orihime berpisah
 
                 2)      Unsur instrinsik

           Tokoh :

-          Kedua tokoh utamanya adalah pemuda yang belum memiliki pasangan        
-          Sifat tokoh utama adalah pembohong, berfikiran pendek, egois, gegabah tetapi penyayang dan rela berkorban. Sifat tokoh kedua dari kedua cerita adalah baik hati, setia, pemaaf dan penyayang.

Tema :

Percintaan

Latar :
-          Tempatnya di suatu desa
-          Waktunya siang hari
-          Suasananya membahagiakan dan mengejutkan di awal dan menyedihkan di akhir

Alur :

Alur maju

Amanat :

                Jaka Tarub adalah seseorang yang berpikiran pendek. Melalui cerita ini kita mendapatkan suatu amanat, yaitu janganlah berbohong kepada orang lain demi kesenangan diri sendiri. Hal ini akan menyenangkan di awal tetapi akan jauh lebih menyakitkan pada akhirnya, karena kebohongan sebesar apapun pasti akan terungkap oleh siapapun dan kapanpun itu.
                Kengyu adalah seseorang yang tidak memikirkan orang lain karena tidak mau mengembalikan jubah Orihime, ia bersikap egois demi kesenangannya. Suatu keegoisan pasti akan terbalaskan suatu hari nanti. Hal ini bisa saja menyenangkan, tetapi ketika balasan datang sakitnya akan jauh lebih besar dibanding kebahagian di awal.

PERBEDAAN

1)      Cerita atau isinya

JAKA TARUB
TANABATA
Jaka Tarub sedang beristirahat di hutan ketika mendengar suara wanita
Tanabata sedang berjalan menuju rumahnya ketika mendengar suara wanita
Wanita yang ia temui, yaitu Nawang Wulan, tidak tahu bahwa Jaka Tarublah yang mengambil selendangnya
Wanita yang ia temuai, Orihime tahu dan meminta agar jubah yang ia ambil dikembalikan kepada dirinya
Nawang Wulan memiliki kesaktian khusus selain terbang
Orihime tidak memiliki kesaktian khusus selain terbang
Nawang Wulan dan Jaka Tarub memiliki seorang anak
Orihime dan Kengyu tidak memiliki seorang anak
Nawang Wulan kecewa karena ternyata suaminya yang mengambil selendangnya selama ini
Orihime kecewa karena Kengyu tak dapat menjaga jubahnya dengan baik
Setelah Nawang Wulan kembali ke langit, ia dan Jaka Tarub tak dapat bertemu lagi selama-lamanya
Setelah Orihime kembali ke kahyangan, ia dan Kengyu bertemu kembali, dan terus bertemu setiap satu tahun sekali

2)      Unsur instrinsik

Latar :
                Keduanya memang berlokasi di suatu desa. Tetapi tempat kejadian ceritanya berbeda. Jaka Tarub bertemu dengan Nawang Wulan di sungai dalam suatu hutan di desa Jaka Tarub, sedangkan Kengyu dan Orihime bertemu di jalan pedesaan.

3)      Kebudayaan dan latar belakang

                Jaka Tarub dan Tanabata berasal dari latar belakang yang berbeda. Jaka Tarub berasal dari Jawa, dimana padi menjadi kebutuhan pokok. Ditekankan pula kewajiban-kewajiban seorang istri yang telah menjadi adat di Indonesia terutama Jawa, yaitu menanak nasi untuk keluarganya. Sedangkan Kengyu berasal dari Jepang yang masih kental adatnya dengan hal-hal yang berhubungan dengan bambu, dan beberapa kebudayan sehari-hari lainnya.

(Indonesian Language, 28/11/14)
Akademi Siswa Bangsa Internasional


               

Rabu, 19 November 2014

Itu Dulu...

                Semuanya berawal saat aku duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Aku ingat, beberapa tahun silam itu aku duduk di bangku paling belakang, bersama teman baikku. Kami baru saja naik kelas, jadi ini adalah tahun ajaran baru, sekaligus kelas baru bagi kami. Cukup sedih rasanya pada saat itu, karena aku harus berpisah dengan beberapa teman – teman baikku. Untungnya aku masih bersama Mayang, teman baikku yang sudah aku sebutkan tadi. Aku menjadi tidak terlalu merasa kesepian.
                Berhari – hari berlalu di kelasku yang baru ini, kelas 3-D namanya. Aku sangat ingat, letaknya di dekat tangga timur sekolah. Kelas ini juga bersebrangan dengan ruang kepala sekolah, membuat kita menjadi berpikir dua kali ketika ingin bandel. Di samping kelas ini adalah kelas 4-C, kelas senior kami pada saat itu. Kalian bisa membayangkan betapa menyeramkannya lokasi kelas kami. Dikurung oleh ruang kepala sekolah di bagian depan dan ruang kakak kelas di sebelahnya. Tetapi ternyata, anak – anak kelas baruku tidak sediam ataupun sesunyi yang kubayangkan sebelumnya.
                Kini, aku sudah memiliki banyak teman. Jadi, aku tidak lagi berduaan saja dengan Mayang. Bosan juga lama – lama bersama dia terus hahaha. Aku dan Mayang berkenalan dengan teman – teman sekelas perempuan kami. Sampai akhirnya kami membentuk sebuah geng seiring dengan berjalannya waktu. Aku ingat, kami tidak memiliki nama khusus untuk geng kami ini. Kami merasa cocok sejak awal sehingga apapun sering kami lakukan bersama – sama. Kami terdiri dari, Caca (aku sendiri), Mayang, Marsha, Tantri, Rai, Bella, dan Sekar. Jumlah kami tidak pasti, tetapi yang kuingat adalah mereka.
                Aku merasa nyaman dengan mereka sampai akhirnya suatu hari, Tantri dan Bella bercerita mengenai kekayaan mereka. Mari mulai dari Tantri. Ia bercerita bahwa di ulang tahunnya pada saat itu, ia diberi hadiah berupa piano eksklusif. Ia bilang, apapun yang ia inginkan pasti akan langsung diberikan oleh ayahnya. Aku tidak terlalu percaya pada awalnya, tetapi ketika dia bilang bahwa ia juga memiliki 25 koleksi jam tangan yang beragam, aku menjadi semakin percaya terhadap perkataannya. Hal ini dikarenakan, aku melihatnya menggunakan beberapa jam tangan yang berbeda setiap harinya. Padahal aku juga tidak tahu dan tidak menghitung berapa macam jam tangan yang sebenarnya sudah pernah ia kenakan. Kedua adalah cerita dari temanku yang satu lagi, yakni Bella. Cerita Bella ini mengenai rumahnya. Ia bercerita bahwa rumahnya sangat luas, dan di bagian depan terdapat 3 pintu eksklusif yang berbeda – beda. Pintu tengah untuk tamu – tamu istimewa, seperti presiden, penjabat – penjabat negara dll. Pintu sebelah kiri untuk tamu – tamu kalangan menengah ke bawah, atau tamu – tamu pada umumnya. Sedangkan pintu terakhir, yaitu pintu kanan, untuk anggota – anggota keluarganya. Lagi – lagi aku mudah saja percaya dengan semua perkataan di luar logika itu. Terlebih lagi aku juga masih berumur muda saat itu. Hal – hal imajinatif seperti itu sangat mungkin saja ada bagi anak – anak kecil.
                Aku sadar, perkataan – perkataan imajinatif mereka yang merupakan kebohongan belaka bertujuan untuk mendoktrinku agar lebih percaya pada mereka, sehingga aku akan dengan mudah menuruti kemauan mereka dan mengikuti semua perbuatan mereka. Aku mulai menyadari hal ini ketika pada suatu hari ketika kami sedang berkumpul di kantin, dan makan bersama, tempat makan Marsha tertinggal di kelas. Secara spontan, Tantri dan Marsha langsung memerintahkanku untuk mengambilnya di kelas. Aku bilang memerintahkan, bukan meminta tolong. Nada mereka sedikit membentak dan memaksa. Maka aku langsung saja menuruti mereka dan mengambilkan tempat makan itu di kelas kami yang jaraknya jauh dari kantin sekolah.
                Kejadian berikutnya adalah ketika pelajaran di kelas sedang berlangsung. Kebetulan pada saat itu aku sedang menulis catatan yang diberi oleh guruku, lalu tiba – tiba, Tantri datang menghampiriku dan menyarahkan buku catatannya kepadaku. Ia dengan seenaknya menyuruhku untuk mencatatkan semua catatan di papan tulis untuk dirinya. Lebih mengesalkannya lagi, catatan dia harus selesai terlebih dahulu, baru setelah itu aku baru bisa menyelesaikan catatanku. Entah kenapa, aku menangis saat itu, dan tiba – tiba Bella mendatangiku dan mencoba untuk menenangkanku. Tetapi tetap saja, Tantri terus memaksaku agar mencatatkan semua catatan itu.
                Sekar dan Rai, teman satu gengku berbeda dengan Tantri, Bella, ataupun Marsha. Ia dua anak yang sombong dan egois pada saat itu. Jika aku memiliki suatu barang yang baru atau bagus. Mereka bisa saja dengan seenaknya meminta barang itu jika mereka menyukainya. Mereka tentu saja tidak akan peduli dengan diriku. Hal ini dikarenakan mereka sudah merasa memiliki derajat lebih tinggi di atasku. Aku selalu menuruti kemauan mereka dan aku tidak pernah berani melawan perkataan mereka pada saat itu. Olokan – olokan seperti gendut, keriting, dll sudah biasa aku dengar dari mereka. Aku sudah cukup terbiasa dengan hal itu.
Entah kenapa hanya beberapa kejadian itu yang masih menempel di ingatanku. Sebenarnya masih banyak lagi kejadian menyebalkan lain yang terjadi ketika aku masih di bangku Sekolah Dasar. Baru sekarang ini aku sadar bahwa itu semua merupakan salah satu bentuk bullying. Aku tidak percaya kalau dulu aku juga merupakan salah satu korban fenomena bullying di sekolah. Ketika kami menjadi korban bully, yang kami takutkan bukanlah mengenai  hukuman dari pelaku bullying, tetapi lebih kepada status sosial kami ketika itu. Mereka akan meninggalkan kami sehingga kami tidak akan memiliki teman. Mereka akan embicarakan kita di belakang. Mereka akan mengolok – olok kami, terutama yang berhubungan dengan keadaan fisik kami. Sehigga kami akan dipermalukan. Jadi, seberapa parah pun perlakuan mereka selalu saj aada sesuatu hal yang membuat kami tak dapat melawannya.
                Ternyata kelas 3 Sekolah Dasar tidak cukup untuk mem-bully diriku. Aku masuk ke kelas  4 Sekolah Dasar setahun kemudian. Pada akhir kelas 3 Sekolah Dasar hubungan kami menjadi membaik. Entah karena mereka sudah terlalu lelah dengan memperlakukan aku seperti itu atau akunya yang sudah mulai belajar menyikapi dengan lebih baik lagi. Jadi, secara tidak langsung aku sudah tidak lagi merasa takut jika akan di-bully oleh teman – temanku di kelas yang baru ini. Entah aku harus senang, sedih atau bahkan biasa saja jika ternyata aku menduduki kelas 4-C yang selama ini berada persis di sebelah ruang kelasku dulu.
                Lagi – lagi, kelas baru, teman – teman baru pula. Teman – temanku kini adalah Putri, Dessy, Nia, Asty,  dan Oxa. Mereka sangat baik, tetapi kami tidak selalu melakukan apa – apa bersama. Kami hanya dekat satu sama lain. Hal ini menambah keyakinanku bahwa aku tidak akan mengalami hal – hal buruk seperti sebelumnya.
                Setelah 2 bulan berlalu, mereka sama saja dengan teman – temanku sebelumnya. Aku tidak tahu, aku yang memang sama saja atau mereka yang sama saja dengan temanku yang terdahulu. Waktu itu, Putri meminjam uangku untuk membeli makanan. Tentu saja aku segera meminjamkan uangku, ia bilang bahwa ia lupa untuk membawa uang saku ke sekolah. Tetapi semakin hari, ia semakin intensif meminjam uangku. Malah ia samasekali tidak merasa bersalah dengan terus – menerus meminjam uangku. Masalahnya, seringkali uangku habis hanya karena ia meminjamnya terlebih dahulu sebelum aku sempat menggunakannya. Setelah aku hitung – hitung, uang yang ia pinjam bisa mencapai tiga puluh ribu rupiah. Angka itu sangat besar untuk anak sekecilku dahulu.Kali ini, temanku tidak membentak atau menyuruh tetapi ia menunjukkan wajah memohon. Aku tidak dapat mengelak untuk membantunya. Lalu selanjutnya, Dessy, temanku dari batak ini senang sekali membuat lawakan – lawakan dan bercanda dengan kami. Tetapi, sampai suatu saat ia mencoret – coret wajahku dengan pulpen ketika jam istirahat sekolah. Awalnya memang bercanda, tetapi karena sifatku yang terlalu nurut dengan semua perkataan temanku, ia menjadi tertawa terbahak – bahak melihat wajahku yang penuh dengan pulpen. Dessy menjadi ketagihan untuk mencoret – coret wajahku. Akibatnya, Oxa ikut menertawakanku, dan memanggil semua teman sekelasku untuk melihat wajahku. Secara serempak mereka langsung menertawakanku. Aku tidak dapat menjelaskan betapa kesal dan malunya aku pada saat itu.
                Pada masa itu, sekolah bukanlah hal yang menyenangkan bagi diriku. Mungkin ini sepele menurut kalian, tetapi aku rasa aku tidak akan seperti sekarang ini jika dahulu aku tidak mengalami hal itu. Untungnya, semakin aku besar, semakin aku bisa mengatasi hal – hal itu. Entah ini memang berhubungan atau tidak, aku menjadi orang yang sangat peduli terhadap keadaan sekitar. Aku bisa senang jika sekitarku senang, dan begitu juga sebaliknya. Aku juga tipe orang yang akan merasa sangat tidak nyaman ataupun tenang ketika memiliki masalah dengan orang lain. Tak peduli seberapa kecil masalahnya, aku akan terus memikirkannya dalam – dalam. Hingga saat ini, masih sulit bagiku untuk berkata tidak jika ada permintaan tolong ataupun pertanyaan yang diajukan temanku kepadaku.Aku belum juga bisa bersikap tegas terhadap apa yang seharusnya menjadi hakku dan kewajibanku. Hal penting dalam hidupku adalah, kebahagiaan datang dari lingkungan, bukan dari diri sendiri. Sehingga jika kamu ingin hidup bahagia, maka bahagiakanlah orang – orang di sekitarmu. Harga sebuah pengalaman, tak peduli seberapa kecil halnya, kamu tidak akan pernah menyadari betapa besar pengaruhnya. Jangan pernah menyepelekan pengalaman kecilmu...

(Indonesian Language, 19/11/14)
Akademi Siswa Bangsa Internasional